Semarang, 24 Februari 2025 – PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang menggelar aksi simbolis bertajuk “Jateng Kelam, Polri Makin Suram. Evolusi Total Ahmad Ludhfi. Copot Listyo Sigit Prabowo” pada Selasa (24/2/2025) sore di Pertigaan Revolusi Jerakah, Kota Semarang. Aksi dimulai sekitar pukul 16.30 WIB dan diikuti sekitar seratus peserta.
Ketua
Komisariat PMII UIN Walisongo Semarang, M. Yusrul Rizanul Muna, menjelaskan
bahwa aksi tersebut dilatarbelakangi oleh sejumlah peristiwa yang dinilai
mencederai fungsi dan tugas institusi kepolisian melindungi, mengayomi, dan
melayani masyarakat. Salah satu yang disoroti adalah dugaan tindakan represif
aparat Brimob terhadap siswa di Maluku yang disebut memicu kemarahan kader
PMII. Selain itu, PMII juga menyinggung kasus yang terjadi di wilayah Semarang
yang hingga saat ini belum memiliki titik terang.
Dalam
aksi tersebut, PMII menyampaikan beberapa tuntutan, antara lain:
1.
Menuntut
keras tindakan aparat Brimob yang dinilai tidak sejalan dengan tugas pokok dan
fungsi kepolisian.
2.
Mendesak
reformasi total institusi kepolisian agar sistem yang ada relevan dengan
kondisi saat ini serta mampu mencegah berbagai pelanggaran hukum yang
melibatkan oknum aparat.
3.
Menyoroti
isu “Jateng Kelam”, termasuk kebijakan kenaikan pajak daerah yang dinilai
memberatkan masyarakat, serta mendesak evaluasi terhadap kepemimpinan Gubernur
Jawa Tengah.
4.
Mengkritisi
keterlibatan aparat kepolisian dalam program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang
dinilai bukan menjadi ranah utama tugas kepolisian.
Seruan aksi tersebut
juga memuat tagar dan tuntutan lain, yaitu “Evaluasi Total Ahmad Luthfi” dan
“Copot Listyo Sigit Prabowo”.
Bertepatan
dengan bulan Ramadan, aksi tersebut dikemas secara simbolis dan lebih kondusif.
Pelaksanaan aksi diawali dengan doa bersama kemudian berbagi takjil dan
dilanjutkan dengan penyampaian hasil kajian PMII UIN Walisongo kepada
masyarakat. “Kami tidak ingin memaksakan kader untuk mengekspresikan secara
lantang karena ini bulan Ramadan. Maka ekspresi kami rangkum dalam bentuk doa
bersama, berbagi takjil, lalu penyampaian hasil kajian” ujar Yusrul.
Ia
juga menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dan mengajukan izin kepada
kepolisian kota Semarang sebelum pelaksanaan aksi. Menurutnya, langkah tersebut
dilakukan untuk menjaga kondusivitas serta menghindari gesekan di lapangan.
Yusrul
menambahkan, aksi ini menjadi momentum konsolidasi PMII UIN Walisongo Semarang
setelah 3 sampai 4 bulan terakhir ini jarang melakukan aksi turun ke jalan
secara mandiri.
Ia
berharap komisariat PMII UIN Walisongo dapat kembali menjadi poros gerakan
mahasiswa di wilayah pantura, khususnya dalam merespons isu-isu sosial dan
kebijakan publik yang berkembang di Jawa Tengah.
Create by:
Biro Media dan
Kepenulisan
PMII Raysa

0 Komentar