Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

KOPRI PMII di Era Modern: Menjawab Tantangan Isu Gender Kontemporer

 

KOPRI PMII di Era Modern: Menjawab Tantangan Isu Gender Kontemporer

Oleh: Diniarti Anugrahita Pramesti

 

(Dokumentasi Sekolah Islam Gender 2026)

 

Hari ini kita tidak berbicara tentang perempuan, tetapi kemanusiaan. Tentang bagaimana kita melihat dan diposisikan dalam kehidupan, gender bukanlah siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah. Pada dasarnya gender tentang keadilan, kita patut sadari ketidakadilan gender bukan hanya masalah perempuan. Tetapi fakta  mengatakan bahwa kasus kekerasan pada perempuan lebih dominan dibandingkan kasus kekerasan pada laki-laki. Komnas Perempuan mencatat rata-rata 6.400 laporan kekerasan seksual setiap tahun, menunjukkan tren yang meningkat. Kekerasan seksual mendominasi dalam dua tahun terakhir, diikuti oleh kekerasan psikis, fisik, dan ekonomi.

Di era modern, isu gender menjadi salah satu topik penting yang terus berkembang, terutama di lingkungan kampus sebagai ruang intelektual dan agen perubahan sosial. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan nilai, termasuk nilai kesetaraan gender. Kesetaraan gender dipahami sebagai kondisi di mana laki-laki dan perempuan memiliki hak, kesempatan, serta perlakuan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan organisasi kampus (Hanifah et al, 2024). Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketimpangan gender masih tetap terjadi. Dalam beberapa organisasi mahasiswa, laki-laki cenderung mendominasi posisi strategis dan kepemimpinan, sementara perempuan lebih sering ditempatkan pada posisi administratif atau pendukung (Azzahra et al, 2025). Kondisi ini dipengaruhi oleh konstruksi sosial serta stereotip gender yang masih berkembang di masyarakat. Normalisasi kekerasan terhadap perempuan perlu dihentikan untuk mencegah kekerasan yang lebih ekstrem. Keadaan inilah yang membuat kita kaum perempuan terutama mahasiswa harus melek terhadap ketidaksetaraan gender dalam lingkungan baik itu kampus maupun lingkungan sekitar dan kekerasan perempuan yang masih menjadi trend dan merajalela dikalangan masyarakat. Serta pada dasarnya ruang lindung manusia adalah hak yang harus diperjuangkan.

Tetapi kini KOPRI (Korps Perempuan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi yang menjadi ruang strategis bagi isu-isu tentang gander. KOPRI hadir untuk memperjuangkan hak yang seharusnya didapatkan oleh manusia. Yaitu hak untuk hidup dan memiliki ruang lindung, tidak hanya perempuan saja tetapi tentang ketidaksetaraan yang dialami oleh gander. Serta KOPRI merupakan rumah bagi semua gander, dimana disana memiliki ruang yang dilindungi, aman, serta nyaman dan wadah perempuan untuk berkembang. Sebagai bagian dari PMII, KOPRI hadir tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai wadah yang secara khusus memperjuangkan peran, hak, dan potensi perempuan. Selain itu, KOPRI juga berperan penting dalam membangun kepercayaan diri perempuan agar mampu tampil di ruang publik. Perempuan tidak lagi dipandang sebagai pihak yang terbatas perannya, melainkan sebagai agen perubahan yang memiliki kontribusi besar dalam pembangunan sosial. KOPRI bukan hanya sekadar organisasi, tetapi menjadi wadah perjuangan dan pemberdayaan perempuan yang mendorong terciptanya kesetaraan, keadilan, dan partisipasi aktif perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Salah satu strategi utama adalah penguatan kapasitas kader perempuan melalui pendidikan dan pelatihan. Program seperti diskusi, seminar, dan pelatihan kepemimpinan terbukti mampu meningkatkan kepercayaan diri serta kompetensi perempuan dalam berorganisasi (Deo et al., 2024). Selain itu menurut Purnama et al., (2025), KOPRI perlu mendorong peningkatan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan organisasi kampus. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun peluang sudah terbuka, perempuan masih kurang terwakili dalam posisi strategis akibat pengaruh budaya dan stereotip gender. Aziz et al., (2024) menjelaskan penting bagi KOPRI untuk mengembangkan strategi kolaborasi dan advokasi kebijakan kampus. Rendahnya representasi perempuan dalam organisasi menunjukkan perlunya dukungan struktural dari kampus.

Dengan demikian Isu gender bukan sekadar persoalan perempuan, tetapi persoalan kemanusiaan yang menyangkut keadilan dan keberpihakan. Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan menunjukkan bahwa ketimpangan gender masih terstruktur dan sering dinormalisasi, bahkan di lingkungan kampus yang seharusnya menjadi ruang aman dan progresif. Hal ini menandakan bahwa kesadaran akademik belum sepenuhnya berbanding lurus dengan praktik sosial.

Dalam konteks ini, KOPRI memiliki peran penting, tetapi tidak cukup hanya sebagai simbol keberadaan perempuan. KOPRI harus mampu menjadi ruang kritis yang tidak hanya memberdayakan, tetapi juga berani menggugat struktur, budaya patriarki, dan praktik diskriminatif yang masih berlangsung. Tanpa sikap kritis tersebut, upaya kesetaraan hanya akan berhenti pada wacana. Ketidaksetaraan gender masih menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan. Kampus dan organisasi seperti KOPRI memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menciptakan ruang aman, tetapi juga mendorong perubahan struktural. Kesetaraan gender tidak akan terwujud tanpa keberanian untuk melawan ketidakadilan dan komitmen kolektif untuk membangun sistem yang lebih adil dan inklusif.

 

Daftar Pustaka:

Hanifah, A. N., Yulistriany, T., & Surahman, C. (2024). KESETARAAN GENDER DI ERA KONTEMPORER: PERSPEKTIF MAHASISWA MUSLIM SEBAGAI AGENT OF CHANGE. _Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, Dan Humaniora,_ Vol. 2(11).

Azzahra, T. S., Setiawan, R., & Afrizal, S. (2025). Dinamika Gender Pada Unit Kegiatan Mahasiswa Jurnalistik: Studi tentang Ketidakadilan Peran Gender. _Jurnal Pendidikan Tambusai,_ Vol. 9(2).

Deo, V. F. O., dkk (2025). Peran Pengurus Komisariat GMNI FKIP Universitas Mulawarman dalam Pemberdayaan Perempuan. _Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan dan Sosial,_ Vol. 14(4).

 

Purnama, C. A., Daulay, H., Siahaan, M. B., Ginting, N., Dwiputri, N. Y., & Damanik, R. D. (2025). Analisis Kesetaraan Gender dalam Kepemimpinan Organisasi IMKA (Ikatan Mahasiswa Karo) UNIMED. _Jurnal Pendidikan Tambusai_, Vol. 9(3).

Aziz, M. H., dkk (2024). Keterwakilan Perempuan dalam Struktur Keorganisasian Mahasiswa. _Jurnal Kajian Hukum dan Kebijakan Publik_, Vol. 2(1)

 

Posting Komentar

0 Komentar