“Awas aja kalau kamu ngomong sama orangtuamu ya!’’ Ucap siswa kelas 3 SMA ku.
Suara tawa terdengar nyaring dari teman-teman siswa senior itu, aku hanya
diam membisu. Tatapanku menghadap lantai, menatap ubin dingin yang menertawakan
nasibku. Tak ada air mata mengalir meski darah tak henti mengalir dari hidung aku.
“Heh Bobby, kamu denger ngga?!’’ Teriak siswa kelas 3
yang bernama Rizki. Aku hanya mengangguk pelan.
“Kerjakan PR dan tugas kami atau kau tau akibatnya.” Ucap
rizki sambil mengacungkan tangannya mengancam. Aku takut melihat tangan yang
sudah puluhan kali memukul seluruh badanku. Rizki tidak kasihan bahkan setelah
melihat darah mengucur dari hidung ku.
BUGH Satu pukulan lagi pada perut. Rasanya sakit
sekali, kepalaku pusing. Semuanya menjadi pudar lalu gelap. Aku pingsan. Saat aku
membuka mata, ternyata sudah berada di ranjang UKS. aku tengok jendela yang
terbuka, matahari hampir tumbang dan siswa berhamburan keluar dari kelasnya. Aku
berjalan pelan menuju kelas, tatapan kosong namun pikiran berkecamuk. Tubuh
yang dulu gempal mulai kurus dengan rambut kering dan berantakan. Seperti
biasa, yang keluar hanya helaan napas pasrah, mejaku penuh tumpukan buku milik
Rizki dan teman-temannya. Aku pulang ke rumah yang kini sepi. Saat melihat anak
lain dijemput orangtua mereka, aku iri.
Keluarga itu seperti apa sih tuhan? Batinku menderu.
Aku hanya bisa menguatkan hatiku dengan berkata pada diri
sendiri, aku pasti kuat, aku pasti bisa.
“Bobby kamu kok kamu memar lagi?” Ibuku menyadari lebam
biru di sudut bibirku.Tumben ibu mampir ke rumahku. Sang pemilik nama hanya
diam seribu bahasa.
Ibu kebingungan. “Hei nak. Jawab, kamu kenapa?” Ucapnya
khawatir. Mata sang ibu mulai berkaca-kaca. Ia terlihat khawatir, pasalnya
sudah dua kali ia menemukan anaknya terluka. Awalnya aku berkata terkena bola
basket. Aku tetap diam tak bergeming.
Ibu belum menyerah. Ia berkata tegas “ Bobby jawab ibu!
Kamu anak pintar, Kamu anak mandiri, kamu kenapa?”. Aku tak berbicara atau
menangis. Tapi tatapanku mengisyaratkan betapa berat bebanku.
Ibu mulai menangis. Ia mengguncang bahuku. “Bobby Jawab
ibu. Ada apa?”. Ia semakin terisak. Kakinya limbung. Ibu terduduk karena
menangis. Aku masih diam dalam posisi berdiri. Wajahku menengadah ke atas
menahan tangis-seperti biasa. Namun, hati tak pernah bisa melihat ibu menangis.
Aku berbohong bahwa ini tidak terlalu berat.
Sebelum langkah kaki ini melewatinya, ibu menahanku. “Jangan
durhaka kamu Bobby. Dasar anak Ja’far!”. Lagi lagi ibu mengungkit bapakku. Ibu
berdiri. Tangisnya reda.
“kamu jangan jadi seperti bapakmu yang kriminal itu!” Wajah
ibu memerah, tanda amarahnya memuncak setiap teringat bapak. Omelan ibu padaku
belum berhenti.
“Cukup bapakmu saja yang suka ribut, dan menipu orang.
Awas aja kalo mengikuti jejak bapakmu yang dipenjara itu!” Aku menatap ibu tak percaya. Dadaku terasa
sangat sesak, napas naik-turun tak beraturan kala mengingat bapak dulu.
Crraaangggg!!! Ibu memecahkan piguraku
yang berisikan foto keluarga.
Tangan ibu teracung mengancam. “Jangan pernah buat aku
teringat sama Ja’far lagi atau bukan cuma foto ini yang ku banting!”. Ibu
mengacungkan tangannya mengancam. Hari ini saja sudah dua tangan mengancamku. Aku
hanya seorang remaja laki laki yang sedang bertumbuh dan kini pertahanan hatiku
goyah. Tanpa sadar pertama kali air mataku mengalir lagi setelah 10 tahun
lamanya, ancaman, intimdasi, dan tekanan dari segala arah menyerangku. Emosiku
campur aduk. Sedih, marah, kecewa, dan muak menyatu dalam otakku. Aku
sebenarnya kuat, itu kalimat yang berulang kali ku katakan dalam hati sedari
tadi.
Kesabaranku sudah habis, aku berkata pada ibu, “Emang ibu
tau apa? urusi saja suami baru ibu dan anak ibu itu,” Ibu terdiam sejenak.
Lalu ia berkata sambil menangis, “Bisa bisanya kamu
ngomong begitu sama ibu!”. Aku melihat lemari kayu dengan belasan pialaku di dalamnya.
Crraanggg!!! Ku banting
salah satu piala yang ada di lemari itu. Aku berteriak marah sambil menangis “Haaaaahhhh!
apa gunanya piala ini, kalau aku ngga pernah ngerasa aman! Apa gunanya?”
“Ibu ngga pernah tau rasanya jadi aku. Ibu pernah ngga
peduli sama keadaanku?!” Tangisku pecah.
“Ibu cuma tau aku berprestasi. Ibu cuma mau ngakuin kalo
aku anak ibu hanya kalo aku menang lomba.” Mataku memerah, emosiku tak
terkendali.
Dengan emosi aku mengeluarkan tumpukkan buku tugas milik
rizki dan komplotannya sambil menunjuk buku-buku itu aku teriak, “ Lihat bu.
Lihattt! Aku di sekolah dibully, aku dipaksa ngerjain PR orang lain. Dan kalau
aku nolak aku bakal dipukul!!”.
Aku menunjukkan bekas lebam di sudut bibirku, “Lihat bu,
aku dipukul orang orang sialan itu! aku ngga bisa melawan. Sepintar-pintarnya
aku, AKU CUMA ANAK NARAPIDANA!” Aku berkata dengan nada tinggi dan penekanan
pada kalimat terakhirku. Tangis ibu pecah lagi, kali ini jauh lebih deras dari
sebelumnya. Aku menyandarkan pungung ke dinding, kemudian membiarkan tubuhku
jatuh terduduk. Aku tutup wajah ini dengan
kedua telapak tangan dengan tangis dalam diam.
Lima belas menit hanya terdengar suara tangisan ibuku. Aku
berkata pelan, “Bobby ngga pernah minta dilahirin bu. Bobby ngga pernah minta
punya bapak narapidana bu. Bobby udah ngga kuat bu. Di sekolah diintimidasi dan
dibully, dirumah juga dimarahi. Bobby capek terus-terusan disalahin atas apa
yang bukan salah Bobby. Bobby capek bu!”. Ku langkahkan kaki ini menuju kamar
dengan segala hal yang penuh luka.
Create by:
Sayyid Akbar
0 Komentar