Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

KELUARGA ITU SEPERTI APA?

 “Awas aja kalau kamu ngomong sama orangtuamu ya!’’ Ucap siswa kelas 3 SMA ku.

Suara tawa terdengar nyaring dari teman-teman siswa senior itu, aku hanya diam membisu. Tatapanku menghadap lantai, menatap ubin dingin yang menertawakan nasibku. Tak ada air mata mengalir meski darah tak henti mengalir dari hidung aku.

“Heh Bobby, kamu denger ngga?!’’ Teriak siswa kelas 3 yang bernama Rizki. Aku hanya mengangguk pelan.

“Kerjakan PR dan tugas kami atau kau tau akibatnya.” Ucap rizki sambil mengacungkan tangannya mengancam. Aku takut melihat tangan yang sudah puluhan kali memukul seluruh badanku. Rizki tidak kasihan bahkan setelah melihat darah mengucur dari hidung ku.

BUGH Satu pukulan lagi pada perut. Rasanya sakit sekali, kepalaku pusing. Semuanya menjadi pudar lalu gelap. Aku pingsan. Saat aku membuka mata, ternyata sudah berada di ranjang UKS. aku tengok jendela yang terbuka, matahari hampir tumbang dan siswa berhamburan keluar dari kelasnya. Aku berjalan pelan menuju kelas, tatapan kosong namun pikiran berkecamuk. Tubuh yang dulu gempal mulai kurus dengan rambut kering dan berantakan. Seperti biasa, yang keluar hanya helaan napas pasrah, mejaku penuh tumpukan buku milik Rizki dan teman-temannya. Aku pulang ke rumah yang kini sepi. Saat melihat anak lain dijemput orangtua mereka, aku iri.

Keluarga itu seperti apa sih tuhan? Batinku menderu.

Aku hanya bisa menguatkan hatiku dengan berkata pada diri sendiri, aku pasti kuat, aku pasti bisa.

“Bobby kamu kok kamu memar lagi?” Ibuku menyadari lebam biru di sudut bibirku.Tumben ibu mampir ke rumahku. Sang pemilik nama hanya diam seribu bahasa.

Ibu kebingungan. “Hei nak. Jawab, kamu kenapa?” Ucapnya khawatir. Mata sang ibu mulai berkaca-kaca. Ia terlihat khawatir, pasalnya sudah dua kali ia menemukan anaknya terluka. Awalnya aku berkata terkena bola basket. Aku tetap diam tak bergeming.

Ibu belum menyerah. Ia berkata tegas “ Bobby jawab ibu! Kamu anak pintar, Kamu anak mandiri, kamu kenapa?”. Aku tak berbicara atau menangis. Tapi tatapanku mengisyaratkan betapa berat bebanku.

Ibu mulai menangis. Ia mengguncang bahuku. “Bobby Jawab ibu. Ada apa?”. Ia semakin terisak. Kakinya limbung. Ibu terduduk karena menangis. Aku masih diam dalam posisi berdiri. Wajahku menengadah ke atas menahan tangis-seperti biasa. Namun, hati tak pernah bisa melihat ibu menangis. Aku berbohong bahwa ini tidak terlalu berat.

Sebelum langkah kaki ini melewatinya, ibu menahanku. “Jangan durhaka kamu Bobby. Dasar anak Ja’far!”. Lagi lagi ibu mengungkit bapakku. Ibu berdiri. Tangisnya reda.

“kamu jangan jadi seperti bapakmu yang kriminal itu!” Wajah ibu memerah, tanda amarahnya memuncak setiap teringat bapak. Omelan ibu padaku belum berhenti.

“Cukup bapakmu saja yang suka ribut, dan menipu orang. Awas aja kalo mengikuti jejak bapakmu yang dipenjara itu!”  Aku menatap ibu tak percaya. Dadaku terasa sangat sesak, napas naik-turun tak beraturan kala mengingat bapak dulu.

Crraaangggg!!! Ibu memecahkan piguraku yang berisikan foto keluarga.

Tangan ibu teracung mengancam. “Jangan pernah buat aku teringat sama Ja’far lagi atau bukan cuma foto ini yang ku banting!”. Ibu mengacungkan tangannya mengancam. Hari ini saja sudah dua tangan mengancamku. Aku hanya seorang remaja laki laki yang sedang bertumbuh dan kini pertahanan hatiku goyah. Tanpa sadar pertama kali air mataku mengalir lagi setelah 10 tahun lamanya, ancaman, intimdasi, dan tekanan dari segala arah menyerangku. Emosiku campur aduk. Sedih, marah, kecewa, dan muak menyatu dalam otakku. Aku sebenarnya kuat, itu kalimat yang berulang kali ku katakan dalam hati sedari tadi.

Kesabaranku sudah habis, aku berkata pada ibu, “Emang ibu tau apa? urusi saja suami baru ibu dan anak ibu itu,” Ibu terdiam sejenak.

Lalu ia berkata sambil menangis, “Bisa bisanya kamu ngomong begitu sama ibu!”. Aku melihat lemari kayu dengan belasan pialaku di dalamnya.

Crraanggg!!! Ku banting salah satu piala yang ada di lemari itu. Aku berteriak marah sambil menangis “Haaaaahhhh! apa gunanya piala ini, kalau aku ngga pernah ngerasa aman! Apa gunanya?”

“Ibu ngga pernah tau rasanya jadi aku. Ibu pernah ngga peduli sama keadaanku?!” Tangisku pecah.

“Ibu cuma tau aku berprestasi. Ibu cuma mau ngakuin kalo aku anak ibu hanya kalo aku menang lomba.” Mataku memerah, emosiku tak terkendali.

Dengan emosi aku mengeluarkan tumpukkan buku tugas milik rizki dan komplotannya sambil menunjuk buku-buku itu aku teriak, “ Lihat bu. Lihattt! Aku di sekolah dibully, aku dipaksa ngerjain PR orang lain. Dan kalau aku nolak aku bakal dipukul!!”.

Aku menunjukkan bekas lebam di sudut bibirku, “Lihat bu, aku dipukul orang orang sialan itu! aku ngga bisa melawan. Sepintar-pintarnya aku, AKU CUMA ANAK NARAPIDANA!” Aku berkata dengan nada tinggi dan penekanan pada kalimat terakhirku. Tangis ibu pecah lagi, kali ini jauh lebih deras dari sebelumnya. Aku menyandarkan pungung ke dinding, kemudian membiarkan tubuhku jatuh terduduk. Aku  tutup wajah ini dengan kedua telapak tangan dengan tangis dalam diam.

Lima belas menit hanya terdengar suara tangisan ibuku. Aku berkata pelan, “Bobby ngga pernah minta dilahirin bu. Bobby ngga pernah minta punya bapak narapidana bu. Bobby udah ngga kuat bu. Di sekolah diintimidasi dan dibully, dirumah juga dimarahi. Bobby capek terus-terusan disalahin atas apa yang bukan salah Bobby. Bobby capek bu!”. Ku langkahkan kaki ini menuju kamar dengan segala hal yang penuh luka.

Create by:

Sayyid Akbar

Posting Komentar

0 Komentar