Bulan Sya’ban adalah salah satu dari serangkaian bulan yang Menyusun jembatan menuju bulan suci Ramadhan. Biasanya kita sebut sebagai bulan untuk menyiram tanaman amal ibadah kita, setelah kita menanam di bulan sebelumnya yaitu bulan Rojab dan menuainya kelak di bulan Ramadhan. Nabi Muhammad menyebut bulan Sya’ban adalah bulannya, betapa mulianya bulan yang di akui sebagai bulan Rasul paling mulia. Di dalam bulan Sya’ban, terdapat sesuatu yang tak kalah mulianya yakni malam Nisfu Sya’ban yang jatuh pada pertengahan bulannya.
Di
sela-sela keheningan malamnya, Nisfu Sya’ban seringkali disebut sebagai lailatul
maghfiroh atau malam pengampunan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW
“Sesungguhnya Allah memandang hamba-hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban dan
mengampuni mereka kecuali yang musyrik dan pendendam.” (HR. Ibnu Majah). Oleh
karena itu, bukan hanya spiritual kita saja yang harus kita benahi, melainkan
jiwa sosial kita juga turut serta di indahkan demi menyambut hangat malam maghfiroh
ini.
Yang
paling utama pada malam ini adalah malam penetapan nasib. Ketika Nabi Muhammad
membacakan firman Allah SWT di Surat
Ar-ra’du ayat 39 “Allah menghapuskan catatan nasib manusia dan menetapkannya,
sebab Dialah pemilik buku induk kehidupan (lauhil mahfudz).” Nabi mengatakan
itu pada malam Nisfu Sya’ban. Kita seringkali mendengar satu kutipan kalimat tidak
ada yang bisa merubah taqdir kecuali do’a. Nisfu Sya’ban adalah manifesti
nyata dari kalimat tersebut. Allah punya taqdir, kita punya do’a. Namun, terkadang
Allah merelakan taqdir-Nya karena do’a kita.
Selain
berdo’a dan berdzikir melalui amalan-amalan yang sudah di ijazahkan para
ulama-ulama terdahulu, di jawa terdapat adat yang unik dalam penyambutan malam
Nisfu Sya’ban ini. Mereka menyebutnya dengan istilah “mapak” atau dalam arti
indonesianya adalah “menjemput”. Menjemput disini yang dimaksud adalah menjemput
datangnya bulan suci Ramadhan yang biasanya di iringi dengan launchingnya si anyaman
kotak berisi nasi yang di hobinya di gantung. Tradisi ini, masih berjalan di
jawa terutama daerah-daerah pedesaan yang masih kental dengan kearifan lokalnya.
Kesimpulannya,
Nisfu Sya’ban adalah “titik balik”. Ini adalah malam di mana kita diberi
kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat ke belakang dengan penyesalan, dan
menatap ke depan dengan penuh harapan. Jika hari ini hidup kita terasa buntu,
hati kita terasa gundah, maka jadikanlah malam ini sebagai momentum untuk merayu
sang pemilik alam semesta. Bukan hanya semata-mata pasrah, namun ikhtiar dhohir
bathin juga perlu untuk di restart ulang. Kita sedang mengetuk pintu langit
agar yang “tertulis” mejadi taqdir terbaik dan di penuhi oleh rahmat-Nya. Semoga
Allah mudahkan kita untuk mengamalkannya dan di terima di sisi-Nya. Aaamiin
Wallahu a’lam….
0 Komentar